UKD 4 Paper Teori Soiologi Klasik

Author: daninur  |  Category: Teori Sosiologi Klasik

Nama : DANI NUR HADIYANTO

NIM : D0311016

Jurusan : Sosiologi

“3 Tokoh Teori Sosiologi Klasik”

TALCOTT PARSONS

BIOGRAFI SINGKAT PARSONS

Talcott Parsons  dilahirkan di Colorado Springs pada tahun 1902. Pada 1920 Ia masuk ke Amherst College. Setelah itu, ia  melanjutkan  studi pascasarjana di London School of Economics tahun 1924. Pada tahun 1925, Parsons pindah ke Heidelberg, Jerman. Pada tahun 1927, ia menjadi instruktur dalam ekonomi di Amherst.

Sejak tahun 1927 hingga wafat pada tahun 1979 ia berprofesi sebagai pengajar di Harvard, Amerika Serikat. Pada 1937, ia mempublikasikan sebuah buku yang menjadi dasar bagi teori-teorinya, yaitu buku “The Structure of  Social Action”.

Sejak tahun 1944, ia menjadi ketua jurusan sosiologi di Harvard, Amerika Serikat. Pada tahun 1946, ia menjadi ketua jurusan hubungan sosial di universitas tersebut. Pada tahun 1949, ia dipilih sebagai Presiden Assosiasi Sosiologi Amerika. Dan pada tahun 1951, ia menjadi tokoh dominant sosiologi Amerika seiring dengan terbitnya buku karyanya “The Social System”.

Pada akhir 1960-an, Parsons mendapat serangan oleh sayap radikal sosiologi Amerika karena ia dipandang konservatif (dalam sikap politiknya maupun teori-teorinya). Selain itu teori-teorinya juga dipandang hanya sebagai skema kategorisasi panjang-lebar.

Pada tahun 1980-an, teori-teorinya diminati diseluruh dunia. Menurut Holton dan Turner (1986), karya-karya parsons memberikan kontribusi lebih besar bagi teori sosiologi, daripada Marx, Weber maupun Durkheim. Selain itu, ide-ide pemikiran Parsons maupun teori-teorinya, tidak hanya mempengaruhi para pemikir konservatif namun juga teoretisi Neo-Marxian (khususnya Jurgen Habermas).

Berdasarkan semua hasil karyanya, Talcott Parsons adalah tokoh fungsionalis struktural modern terbesar  hingga saat ini.

FUNGSIONALISME STRUKTURAL TALCOTT PARSONS

Talcott Parsons melahirkan teori fungsional tentang perubahan. Dalam teorinya, Parsons menganalogikan perubahan sosial pada masyarakat seperti halnya pertumbuhan pada mahkluk hidup. Komponen utama pemikiran Parsons adalah adanya proses diferensiasi. Parsons berpendapat bahwa setiap masyarakat tersusun dari sekumpulan subsistem yang berbeda berdasarkan strukturnya maupun berdasarkan makna fungsionalnya bagi masyarakat yang lebih luas. Ketika masyarakat berubah, umumnya masyarakat tersebut akan tumbuh dengan kemampuan yang lebih baik untuk menanggulangi permasalahan hidupnya. Dapat dikatakan Parsons termasuk dalam golongan yang memandang optimis sebuah proses perubahan.

Asumsi dasar dari Teori Fungsionalisme Struktural, yaitu bahwa masyarakat menjadi suatu kesatuan atas dasar kesepakatan dari para anggotanya terhadap nilai-nilai tertentu yang mampu mengatasi perbedaan-perbedaan sehingga masyarakat tersebut dipandang sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi dalam suatu keseimbangan. Dengan demikian masyarakat adalah merupakan kumpulan sistem-sistem sosial yang satu sama lain berhubungan dan saling memiliki ketergantungan.

Talcott Parsons adalah seorang sosiolog kontemporer dari Amerika yang menggunakan pendekatan fungsional dalam melihat masyarakat, baik yang menyangkut fungsi dan prosesnya. Pendekatannya selain diwarnai oleh adanya keteraturan masyarakat yang ada di Amerika juga dipengaruhi oleh pemikiran Auguste Comte, Emile Durkheim, Vilfredo Pareto dan Max Weber. Hal tersebut di ataslah yang menyebabkan Teori Fungsionalisme Talcott Parsons bersifat kompleks.

Teori Fungsionalisme Struktural mempunyai latar belakang kelahiran dengan mengasumsikan adanya kesamaan antara kehidupan organisme biologis dengan struktur sosial dan berpandangan tentang adanya keteraturan dan keseimbangan dalam masyarakat.

Teori Fungsionalisme Struktural Parsons mengungkapkan suatu keyakinan yang optimis terhadap perubahan dan kelangsungan suatu sistem. Akan tetapi optimisme Parson itu dipengaruhi oleh keberhasilan Amerika dalam Perang Dunia II dan kembalinya masa kejayaan setelah depresi yang parah itu. Bagi mereka yang hidup dalam sistem yang kelihatannya mencemaskan dan kemudian diikuti oleh pergantian dan perkembangan lebih lanjut maka optimisme teori Parsons dianggap benar. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Gouldner (1970: 142): ”untuk melihat masyarakat sebagai sebuah firma, yang dengan jelas memiliki batas-batas srukturalnya, seperti yang dilakukan oleh teori baru Parsons, adalah tidak bertentangan dengan pengalaman kolektif, dengan realitas personal kehidupan sehari-hari yang sama-sama kita miliki”.

Teori struktural fungsional mengansumsikan bahwa masyarakat merupakan sebuah sistem yang terdiri dari berbagai bagian atau subsistem yang saling berhubungan. Bagian-bagian tersebut berfungsi dalam segala kegiatan yang dapat meningkatkan kelangsungan hidup dari sistem. Fokus utama dari berbagai pemikir teori fungsionalisme adalah untuk mendefinisikan kegiatan yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hidup sistem sosial. Terdapat beberapa bagian dari sistem sosial yang perlu dijadikan fokus perhatian, antara lain ; faktor individu, proses sosialisasi, sistem ekonomi, pembagian kerja dan nilai atau norma yang berlaku.

Pemikir fungsionalis menegaskan bahwa perubahan diawali oleh tekanan-tekanan kemudian terjadi integrasi dan berakhir pada titik keseimbangan yang selalu berlangsung tidak sempurna. Artinya teori ini melihat adanya ketidakseimbangan yang abadi yang akan berlangsung seperti sebuah siklus untuk mewujudkan keseimbangan baru. Variabel yang menjadi perhatian teori ini adalah struktur sosial serta berbagai dinamikanya. Penyebab perubahan dapat berasal dari dalam maupun dari luar sistem sosial.

Gagasan-gagasan inti dari fungsionalisme ialah perspektif holistis (bersifat menyeluruh), yaitu sumbangan-sumbangan yang diberikan oleh bagian-bagian demi tercapainya tujuan-tujuan dari keseluruhan, kontinuitas dan keselarasan dan tata berlandaskan konsensus mengenai nilai-nilai  fundamental.

Teori fungsional ini menganut faham positivisme, yaitu suatu ajaran yang menyatakan bahwa spesialisasi harus diganti dengan pengujian pengalaman secara sistematis, sehingga dalam melakukan  kajian haruslah mengikuti aturan ilmu pengetahuan alam. Dengan demikian, fenomena tidak didekati secara kategoris, berdasarkan tujuan membangun ilmu dan bukan untuk tujuan praktis. Analisis teori fungsional bertujuan menemukan hukum-hukum universal (generalisasi) dan bukan mencari keunikan-keunikan (partikularitas). Dengan demikian, teori fungsional berhadapan dengan cakupan populasi yang amat luas, sehingga tidak mungkin mengambilnya secara keseluruhan  sebagai sumber data. Sebagai jalan keluarnya, agar dapat mengkaji realitas universal tersebut maka diperlukan representasi dengan cara melakukan penarikan sejumlah sampel yang mewakili. Dengan kata lain, keterwakilan (representatifitas) menjadi sangat penting.

Walaupun fungsionalisme struktural memiliki banyak pemuka yang tidak selalu harus merupakan ahli-ahli pemikir teori, akan tetapi paham ini benar-benar berpendapat bahwa sosiologi adalah merupakan suatu kajian  tentang struktur-struktur sosial sebagai suatu unit-unit yang terbentuk atas bagian-bagian yang saling terkait.

Pendekatan fungsionalisme-struktural dapat dikaji melalui anggapan-anggapan dasar sebagai berikut :

  1. Masyarakat haruslah dilihat sebagai suatu sistem dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lain.
  2. Hubungan saling mempengaruhi diantara bagian-bagian suatu sistem bersifat timbale balik.
  3. Sekalipun integrasi sosial tidak pernah dapat dicapai dengan sempurna, namun secara fundamental sistem sosial selalu cenderung bergerak kea rah keseimbangan yang bersifat dinamis.
  4. Sistem sosial senantiasa berproses kea rah integrasi sekalipun terjadi ketegangan, disfungsi dan penyimpangan.
  5. Perubahan-perubahan dalam sistem sosial, terjadi secara gradual (perlahan-lahan atau bertahap), melalui penyesuaian-penyesuaian dan tidak secara revolusioner.
  6. Faktor yang paling penting yang memiliki daya integrasi suatu sistem sosial adalah consensus atau mufakat di antara para anggota masyarakat mengenai nilai-nilai kemasyarakatan tertentu.

Demi memudahkan kajian teori-teori yang digagas oleh Parsons, Peter Hamilton berpendapat  bahwa Teori Parsonian dapat dibagi kedalam 3 fase:

1. Fase Permulaan. Fase ini berisi tahap-tahap perkembangan atas teori Voluntaristik (segi Kemauan) dari tindakan  sosial dibandingkan dengan pandangan-pandangan sosiologi yang positivistis, utilitarian, dan reduksionis.

2. Fase Kedua. Fase ini berisi gerakannya untuk membebaskan diri dari kekengan teori tindakan sosial yang mengambil arah fungsionalisme struktural ke dalam pengembangan suatu teori tindakan kebutuhan-kebutuhan yang sangat penting.

3. Fase Ketiga Fase ini terutama mengenai model sibernetik (elektronik pengendali) dari sistem-sistem sosial dan kesibukannya dengan masalah empiris dalam mendefinisikan dan menjelaskan perubahan sosial.

Dari ketiga fase tersebut, dapat dinyatakan bahwa Parsons telah melakukan tugas penting, yaitu: Ia mencoba untuk mendapatkan suatu penerapan dari sebuah konsep yang memadai atas hubungan-hubungan antara teori sosiologi dengan ekonomi. Ia juga mencari kesimpulan-kesimpulan metodologis & epistemologis dari apa yang dinamakan sebagai konsep sistem teoretis dalam ilmu sosial. Ia mencari basis-basis teoretis dan metodologis dari gagasan tindakan sosial dalam pemikiran sosial.

Dalam mengkategorikan tindakan atau menggolongkan tipe-tipe peranan dalam sistem sosial, Parsons mengembangkan 5 buah skema yang dilihat sebagai kerangka teoritis utama dalam analisa sistem sosial. 5 buah skema itu adalah:

  1. Affective versus Affective Neutrality, maksudnya dalam suatu hubungan sosial, orang dapat bertindak untuk pemuasan Afeksi (kebutuhan emosional) atau bertindak tanpa unsur tersebut (netral).
  2. Self-orientation versus Collective-orientation, maksudnya, dalam berhubungan,  orientasinya hanya pada dirinya sendiri atau mengejar kepentingan pribadi. Sedangkan dalam hubungan yang berorientasi kolektif, kepentingan tersebut didominasi oleh kelompok.
  3. Universalism versus Particularism, maksudnya, dalam hubungan yang universalistis, para pelaku saling berhubungan menurut kriteria yang dapat diterapkan kepada semua orang. Sedangkan dalam hubungan yang Partikularistis, digunakan ukuran/kriteria tertentu.
  4. Quality versus Performance, maksudnya variable Quality ini menunjuk pada Ascribed Status (keanggotaan kelompok berdasarkan kelahiran/bawaan lahir). Sedangkan  Performance (archievement) yang berarti prestasi yang mana merupakan apa yang telah dicapai seseorang.
  5. Specificity versus Diffusness, maksudnya dalam hubungan yang spesifik, individu berhubungan dengan individu lain dalam situasi terbatas .

4 FUNGSI IMPERATIF SISTEM TINDAKAN (AGIL)

Dalam teori struktural fungsional Parsons ini, terdapat empat fungsi untuk semua sistem tindakan. Suatu fungsi adalah kumpulan hal yang ditujukan pada pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan sistem. Secara sederhana, fungsionalisme struktural adalah sebuah teori yang pemahamannya tentang masyarakat didasarkan pada model sistem organik dalam ilmu biologi. Artinya, fungsionalisme melihat masyarakat sebagai sebuah sistem dari beberapa bagian yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Satu bagian tidak bisa dipahami terpisah dari keseluruhan. Dengan demikian, dalam perspektif fungsionalisme ada beberapa persyaratan atau kebutuhan fungsional yang harus dipenuhi agar sebuah sistem sosial bisa bertahan. Parsons kemudian mengembangkan apa yang dikenal sebagai imperatif-imperatif fungsional agar sebuah sistem bisa bertahan. Imperatif-imperatif tersebut adalah Adaptasi, Pencapaian Tujuan, Integrasi, dan Latensi atau yang biasa disingkat AGIL (Adaptation, Goal attainment, Integration, Latency).

  1. Adaptasi, sebuah sistem ibarat makhluk hidup, artinya agar dapat terus berlangsung hidup, sistem harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. harus mampu bertahan ketika situasi eksternal sedang tidak mendukung.
  2. Goal (Pencapaian), sebuah sistem harus memiliki suatu arah yang jelas dapat berusaha mencapai tujuan utamanya. Dalam syarat ini, sistem harus dapat mengatur, menentukan dan memiliki sumberdaya untuk menetapkan dan mencapai tujuan yang bersifat kolektif.
  3. Integrasi, sebuah sistem harus mengatur hubungan antar bagian yang menjadi komponennya. Sistem juga harus dapat mengelola hubungan antara ketiga fungsi penting lainnya.
  4. Latensi, Pemeliharaan pola, sebuah sistem harus melengkapi, memelihara dan memperbaiki pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang motivasi.

Berdasarkan skema AGIL di atas, dapat disimpulkan bahwa klasifikasi fungsi sistem adalah sebagai Pemeliharaan Pola (sebagai alat  internal), .Integrasi (sebagai hasil internal), Pencapaian Tujuan (sebagai hasil eksternal), Adaptasi (alat eksternal).

Adapun komponen dari sistem secara general (umum) dari suatu aksi adalah: Keturunan & Lingkungan yang merupakan kondisi akhir dari suatu aksi, Maksud & Tujuan,  Nilai Akhir,  dan hubungan antara elemen dengan faktor normatif.

Asumsi Parsons terkait dengan tatanan sistem:

Sistem memiliki bagian-bagian yang saling tergantung satu sama lain, sehingga suatu sistem tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Sebagai contoh, sistem tindakan itu mendapat pengaruh maupun dapat memberi pengaruh pada sistem kepribadian.

Sistem cenderung menjadi tatanan yang memelihara dirinya, dapat menjadi statis/mengalami proses perubahan secara tertata. Sifat satu bagian sistem berdampak pada bagian yang lain. Sistem memelihara batas dengan lingkungan mereka. Alokasi & Integrasi adalah 2 proses fundamental bagi kondisi ekuilibrium sistem. Sistem cenderung memelihara dirinya yang meliputi pemeliharaan batas & hubungan bagian-bagian dengan keseluruhan, kontrol variasi lingkungan, dan kontrol kecendrungan untuk mengubah sistem dari dalam.
Sistem harus terstruktur agar dapat menjaga kelangsungan hidupnya dan juga harus harmonis dengan sistem lain. Sistem juga harus  mendapat dukungan yang diperlukan dari sistem lain, artinya suatu sistem tidak dapat berdiri sendiri. Tetapi antara satu sustem dengan sistem lainnya akan saling terkait. Sistem juga dituntut untuk mampu mengakomodasi para aktornya secara proporsional (imbang), melahirkan partisipasi yang memadai dari para aktornya, Mampu untuk mengendalikan perilaku yang berpotensi mengganggu, dapat dikendalikan bila terjadi konflik atau menimbulkan kekacauan dan memiliki bahasa dan aktor sosial.

Menurutnya, persyaratan kunci bagi terpeliharanya integrasi pola nilai dan norma ke dalam sistem ialah dengan sosialisasi dan internalisasi. Pada proses sosialisasi yang sukses, nilai dan norma sistem sosial itu akan di internalisasikan. Artinya ialah nilai dan norma sistem sosial ini menjadi bagian kesadaran dari actor tersebut. Akibatnya ketika si actor sedang mengejar kepentingan mereka maka secara langsung dia juga sedang mengejar kepentingan sistem sosialnya.

Sistem Tindakan

Dalam sistem tindakan, Parsons melandaskan pada teori aksi ( the structure of social action) yang menujun titik sentral konsep perilaku voluntaristik. Dalam konsep ini dijelaskan bahwa Individu memiliki kemampuan untuk menentukan cara & alat dari berbagai alternative yang ada untuk mencapai suatu tujuan.

Sistem Tindakan berdasarkan Orientasi Motivasi:

1. Kognitif (merujuk pada definisi seorang aktor tentang situasi dalam terminologi kepentingannya, yang didorong oleh apa yang diketahui oleh obyek ).

2. Katektik (pengujian seorang aktor untuk kepuasannya yang seringkali merupakan tanggapan atas obyek).

3. Evaluatif (merujuk pada pilihan sang aktor dan tatanan dari alternatifnya yang dilakukan dengan cara dimana obyek dininlai dan diurutkan satu sama lain agar saling menyerang).

2. Sistem Sosial

Sistem sosial terdiri dari beragam aktor individual yang saling berinteraksi dalam situasi yang setidaknya memiliki aspek fisik/lingkungan, aktor yang termotivasi kearah “optimisasi kepuasan”, dan hubungan dengan situasi mereka, termasuk hubungan satu sama lain, didefinisikan dan diperantarai dalam bentuk simbol yang terstruktur secara kultural dan dimiliki bersama.

Sistem sosial dibentuk oleh norma, kepercayaan, nilai-nilai yang diorganisasikan dan dapat diukur sebagai keleompok yang terpola dari peran-peran sosial yang berjalan baik.

Prasyarat fungsional bagi sistem sosial:

  1. Terstruktur, dapat beroperasi dengan baik bersama sistem lain.
  2. Didukung sebelumnya oleh sistem lain, agar dapat bertahan hidup.
  3. Signifikan memenuhi proporsi kebutuhan aktor-aktornya.
  4. Menimbulkan partisipasi yang memadai dari anggotanya.
  5. Memiliki kontrol minimum terhadap perilaku yang berpotensi merusak.
  6. Mmerlukan bahasa agar bertahan hidup.

Batasan-batasan dari sistem sosial:

a. Sistem sosial merupakan jaringan hubungan-hubungan antar aktor atau jaringan hubungan interaktif.

b. Sistem sosial menyediakan kerangka konseptual untuk menghubungkan tindakan individu dalam situasi yang bervariasi.

c. Pandangan Aktor  tentang alat & tujuan didapat pada situasi yang dibentuk oleh kepercayaan, norma & nilai yang diorganisasikan dalam harapan peran

d. Aktor tidak menghadapi situasi sebagai individu, tetapi sebagai posisi dalam peran sosial yang menyediakan perilaku yang sesuai  dan juga berhubungan dengan peran-peran sosial lain (Timasheff & Theodorson, 1976:254).

3. Aktor dari Sistem Sosial

Proses internalisasi & sosialisasi merupakan hal terpenting dalam integrasi.Biasanya aktor adalah penerima pasif dalam proses sosialisasi. Sosialisasi harus terus menerus dilengkapi dalam siklus kehidupan dengan serangkaian pengalaman sosialisasi yang lebih spesifik.Sosialisasi & Kontrol sosial adalah mekanisme utama yang memungkinkan sistem sosial mempertahankan ekuilibriumnya.

4. Masyarakat

Masyarakat merupakan sistem sosial yang paling spesifik & penting, yaitu sebuah kolektivitas yang relatif mandiri, anggotanya mampu memenuhi kebutuhan individual & kolektif, dan sepenuhnya hidup dalam kerangka kerja kolektif. Contoh Sub sistem masyarakat: ekonomi, politik.

5. Sistem Kultural (kebudayaan)

Kebudayaan adalah kekuatan utama yang mengikat berbagai elemen dunia sosial atau sistem simbol yang terpola, tertata, yang merupakan sasaran orientasi aktor, aspek sistem kepribadian yang diinternalisasikan dan pola-pola yang terlembagakan dalam sistem sosial. Dalam sistem sosial, kebudayaan menubuh dalam norma dan nilai, sedangkan dalam sistem kepribadian, kebudayaan ditanamkan kepada individu  oleh aktor kedalam dirinya.

Sistem kebudayaan juga dapat dikatakan sebagai aspek tindakan yang mengorganisasikan karakteristik dan urgensi yang membentuk sistem yang stabil. Contoh dari sistem kultural diantaranya adalah: klen (marga).

6. Sistem Kepribadian

Kepribadian adalah organisasi sistem orientasi & motivasi tindakan aktor individual. Komponen dasar kepribadian: kebutuhan-disposisi, yaitu sebagai unit paling signifikan dari motivasi tindakan. Cara Parsons mengaitkan kepribadian dengan sistem sosial: pertama, aktor harus belajar melihat dirinya dengan cara yang sesuai dengan status mereka dalam masyarakat. Kedua, harapan-harapan peran melekat pada setiap peran yang dimainkan oleh aktor individu. Lalu terjadi pembelajaran disiplin diri, internalisasi orientasi nilai, identifikasi, dsb.

7. Organisme Behavioral

Meskipun memasukan organisme behavioral dalam salah satu sistem tindakan, Parsons tidak begitu detil membahasnya. Organisme behavioral dalam karya Parsons merupakan sistem bekas dan merupakan sumber energi bagi seluruh sistem. Sistem ini kemudia berubah nama menjadi “sistem perilaku”.

8. Perubahan dan Dinamika Teori Parsonsian

Berdasarkan karya-karya Parsons, seperti empat sistem tindakan dan imperatif fungsional mengundang tuduhan bahwa ia menawarkan teori struktural yang tidak mampu menangani perubahan sosial. Hal ini dikarenakan, ia peka terhadap perubahan sosial, namun ia berpendapat bahwa meskipun studi perubahan diperlukan, tapi itu harus didahului dengan studi tentang struktur.

9. Teori Evolusi

Dalam membahas perubahan sosial, terdapat pradigma perubahan evolusioner. Dalam paradigma tersebut terdapat beberapa komponen, yaitu: Proses Differensiasi dan Integrasi. Dalam hal ini dijelaskan bahwa masyarakat mengalami evolusi & pertumbuhan sehingga menjadi semakin mampu untuk mengatasi masalah yang dihadapinya. Evolusi tersebut  berlangsung melalui berbagai siklus (tahap) yaitu, tahap primitif, pertengahan dan modern.

10. Media Pertukaran yang Digeneralisasi

Media pertukaran yang digeneralisasi adalah  media yang beredar diantara keempat sistem tersebut, yang mana eksistensi dan gerakannya mendinamiskan sebagian besar analisis struktural Parsons. Contoh model media ini dapat berupa uang ( sebagai media pertukaran dalam bidang ekonomi), jabatan (sebagai media prtukaran dalam bidang politik).

Kritik dan Relevansi teori Parsons:

1. Orientasinya statis, sehingga terlalu banyak mencurahkan perhatian pada perubahan.Karya-karyanya tentang perubahan sosial dinilai sangat statis & terstruktur.

2. Pada saat dia melakukan elaborasi (pengerjaan dengan teliti) sisi sistem & teori, tindakan dia telah menerapkan seluruh terminologi dan asumsi kaum fungsionalis yang telah diketahui bahwa begitu problematis dari berbagai sudut pandang.

3. Parsons tidak pernah berhasil menjelaskan secara tepat, realitas sosial empirik yang bagaimana ia bicarakan.

4. Definisi yang ia buat, tetap merupakan pengujian neoskolastik (sesuatu yang berhubungan dengan penyelidikan hukum-hukum filsafat baru) yang mencoba mengatasi suatu ketidakjelasan melalui sarana lainnya.

Intinya, Parsons tidak menyadari bahwa sebagian besar pernyataannya yang dibuat tentang suatu masyarakat harus dibatasi keumumannya. Salah satu alasan yang paling pokok tentang ketidakjelasan Parsons adalah bahwa dia mendefinisikan terminologinya tanpa ada tujuan penelitian maupun problema yang masuk akal.

PITIRIM A. SOROKIN

Biografi Singkat

Pitirim Sorokin adalah ilmuwan Rusia yang mengungsi ke Amerika Serikat sejak Revolusi Komunis 1917. Ia lahir di Rusia pada tahun 1889 dan memperoleh pendidikan di Universitas St Petersburg. Kemudian Sorokin mengajar disana yang kemudian Ia mendirikan Departemen Sosiologi.

Karir Sorokin terganggu karena adanya Revolusi Komunis, hal ini dikarenakan ia sebagai pejuang anti komunisme. Ia sempat ditahan dan dijatuhi hukuman mati, yang kemudian hukuman tersebut di ganti dengan hukuman pembuangan ke Cekoslovakia. Setelah beberapa tahun Ia hidup dipengasingan, pada tahun 1924, ia kemudian pergi ke Amerika Serikat.

Di Amerika Serikat, Sorokin bergabung dengan Universitas Harvard dan kemudian mendirikan Center for Creative Altruism.

KARYA DAN TEORINYA

Karya- karyanya antara lain sebagai berikut :

1.      Social Cultural and Dynamics (1941),

2.      The Crisis of Our Age (1941),

3.      Society, Culture and Personality (1947).

Dalam karyanya dinamika sosial dan budaya (1937 – 1941), teori lazimnya memberikan kontribusi kepada teori siklus sosial dan menginspirasi banyak sosiolog.

Teori Integralistik Budaya Puncak Perkembangan Intelektual Manusia
Dalam Dinamika Sosial Budaya masyarakat ia mengklasifikasikan sesuai dengan ‘mentalitas budaya’, yang dapat ideasional (realitas adalah rohani), dapat merasa (kenyataannya bahan), atau idealis. Masing-masing fase perkembangan budaya tidak hanya berusaha untuk menggambarkan sifat realitas, tetapi juga menetapkan sifat kebutuhan dan tujuan manusia untuk menjadi puas, sejauh mana mereka harus puas, dan metode kepuasan.

Sorokin menilai gerak sejarah dengan gaya, irama dan corak ragam yang kaya raya dipermudah, dipersingkat dan disederhanakan sehingga menjadi teori siklus. Ia menyatakan bahwa gerak sejarah menunjukkan fluctuation of age to age, yaitu naik turun, pasang surut, timbul tenggelam. Ia menyatakan adanya cultural universal dan di dalam alam kebudayaan itu terdapat masyarakat dan aliran kebudayaan. Sorokin mengidentifikasi adanya 3 supersistem (mentalitas budaya) yang ada di dunia, yaitu:

a. Kebudayaan Ideational, mempunyai dasar pemikiran bahwa kenyataan itu bersifat nonmaterial, transenden dan tidak dapat ditangkap oleh panca indera. Dunia dianggap sebagai suatu ilusi, sementara, dan tergantung pada dunia transenden atau sebagai aspek kenyataan yang tidak nyata , tidak sempurna, tidak lengkap. Kenyataan adalah sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan atau nirwana. Kata kunci adalah kerohanian, ketuhanan, keagamaan, kepercayaan. Sistem ini terbagi antara lain menjadi :

  • Ideasional asketik, mengurangi kebutuhan duniawi supaya mudah diserap ke dalam dunia transenden.
  • Ideasional aktif, mengurangi kebutuhan duniawi sekaligus mengubahnya agar selaras dengan dunia transenden.

b. Kebudayaan Sensate, dasar pemikirannya adalah dunia materil yang ada disekitar kita adalah satu-satunya kenyataan yang ada. Keberadaan kenyataan yang adi inderawi atau yang trasenden disangkal. Kata kunci adalah serba jasmaniah, mengenai keduniawian, berpusat pada panca indera. Mentalitas ini dapat dibagi menjadi :

  • Inderawi aktif, usaha aktif untuk mengubah dunia fisik guna memenuhi kepuasan dan kesenangan manusia. Contoh : adanya kemajuan – kemajuan ilmiah serta kedokteran.
  • Inderawi pasif, menikmati kesenangan duniawi tanpa memperhatikan tujuan jangka panjang.
  • Inderawi sinis, pengejaran tujuan duniawi dibenarkan oleh rasionalisasi idealistik.

c. Kebudayaan Campuran perpaduan antara ideational-sensate, dasar pemikirannya adalah perpaduan antara kedua hal diatas (Ideational dan Sensate). Kata kunci adalah suatu kompromis. Terbagi menjadi :

  • Kebudayaan Idealistis, dasar pemikiran antara ideational dan sensate secara sistematis dan logis saling berhubungan.
  • Kebudayaan Ideasional Tiruan(Pseudo- Ideational Culture), kedua dasar pemikiran antara ideasional dan sensate saling berlawanan tidak teritegrasi secara sistematis namun hidup berdampingan.

Sejarah sosiokultural merupakan lingkaran yang bervariasi antara ketiga supersistem yang mencerminkan kultur yang agak homogen. Tiga jenis kebudayaan adalah suatu cara untuk menghargai atau menentukan nilai suatu kebudayaan. Menurut Sorokin tidak terdapat hari akhir ataupun kehancuran, ia hanya melukiskan perubahan-perubahan dalam tubuh kebudayaan yang menentukan sifatnya untuk sementara waktu. Apabila sifat ideational dipandang lebih tinggi dari sensate dan sifat idealistic ditempatkan diantaranya, maka terdapat gambaran naik-turun, timbul-tenggelam dan pasang-surut dalam gerak sejarah tidak menunjukkan irama dan gaya yang tetap dan tertentu. Sorokin dalam menafsirkan gerak sejarah tidak mencari pangkal gerak sejarah atau muara gerak sejarah, ia hanya melukiskan prosesnya atau jalannya gerak sejarah.

Sorokin berpendapat bahwa ketiga tipe mentalitas budaya yang asasi itu dapat berulang dalam satu bentuk siklus. Dengan kata lain, periode ideasional dikuti oleh suatu bentuk campuran (biasanya tidak idealistis) yang diikuti oleh satu periode ideasional baru dan seterusnya. Sorokin secara profetis meramalkan suatu akhir dari periode inderawi yang pada akhirnya merupakan kelahiran kembali suatu tahap baru mentalitas ideasional.
Sehingga bukan pada positivistik yang mendasarkan pada data empiris (kebudayaan inderawi) tetapi pada integralistik budaya yang mendasarkan diri pada pandangan dunia (world view) terhadap keseluruhan yang saling melengkapi antara kebudayaan inderawi (materiil) dan ideasional (non materiil, transenden tidak dapat ditangkap oleh inderawi).

Kritik dan Relevansi teori Sorokin :

3 mentalitas budaya cenderung mengarah pada teori 3 jenjang Comte, jika teori 3 jenjang Comte mngungkapkan bahwa kemajuan IPTEK akan terus berjalan kea rah depan tanpa batas. Akan tetapi teori Sorokin mengatakan bahwa 3 jenjang tersebut akan terus di alami oleh manusia.

VILFREDO PARRETO

Paretto menaruh minat besar terhadap soal-soal ekonomi sejauh soal-soal tersebut mempunyai implikasi politik.

Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan positif

Dapat kita ketahui bahwa Auguste Comte merupakan “Bapak Positivisme”, namun Paretto tidak membenarkan hal tersebut. Menurut dia, tiap-tiap ilmu pengetahuan positif harus mengurangi ambisinya dan hanya mencari kebenaran yang dapat dibuktikan dan diuji dengan eksperimen.

Menurut Paretto, reformasi masyarakat bukan tugas sosiologi. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang empiris tidak brtujuan untuk menyebar-luaskan gagasan mengenai masyarakat ideal  yang seharusnya dibentuk, namun menyajikan fakta mengenai masyarakat yang nyata ada dan dapat ditinjau dan diuraikan oleh tiap-tiap orang. Sosiologi positivistis harus menjauhkan diri dari metafisika. Seorang sosiolog tidak boleh berlagak seolah-olah seperti nabi atau hakim, yang hendak menegakkan keadilan dan kebenaran. Sosiologi harus bersifat logis dan eksperimental. Pareto mencita-citakan suatu Sosiologi yang didasarkan atas kriteria matematika rasional, yang selalu sah dan tak terbantahkan.

Sosiologi tidak dapat menjadi basis untuk suatu orde sosial baru. Tujuan atau cita-cita sosial tidak mungkin ditemukan melalui metida logis eksperimental. Berdasarkan metoda ini, sosiologi hanya dapat menghasilkan pengertian yang lebih baik tentang masyarakat yang ada.  Pengertian itu diperoleh dengan mengambila dua langkah. Pertama, realitas sosial yang dialami sebagai serbaneka dan jamak, disederhanakan oleh akan budi yang disebut konseptualisasi. Kedua, hasil konseptualisasi dan analisis harus disusun kembali, sehingga melukiskan masyarakat sebagaimana nyata adanya.

Masyarakat terdiri dari perilaku manusia

Pereto menekankan bahwa hidup bermasyarakat terdri dari apa yang dilakukan oleh anggota-anggota individual. Sebagian besar kelakuan manusia bersifat mekanis atau otomatis. Maka dari itu, Pareto membedakan antara perilaku logis dan perilaku monologis. Perilaku logis adalah perilaku yang direncanakan oleh akal-budi dengan berpedoman pada tujuan yang mau dicapai, dan menurut kenyataan mencapai tujuan itu. Sedangkan, perilaku non logis  adalah perilaku yang tidak berpedoman secara rasional pada tujuan, atau tidak mencapai tujuannya. Hampir seluruh kehidupan masyarakat terdiri dari perilaku-perilaku non logis. Dua tipe perilaku non logis yang paling sering menonjol, yaitu :

1. Orangnya menyangka secara subyektif bahwa suatu langkah tertentu perlu diambil untuk mencapai suatu tujuan, padahal tidak ada hubungan obyektif antara langkah itu dengan tujuan itu.

2. Perilaku dimana semestinya itu disebut perbbuatan logis tetapi sesudah tercapainya tujuan itu, timbul suatu keadaan yang merupakan kebalikan dari apa yang diharapkan. Sejauh akibat-akibat negatif itu tidak diduga dan dipikirkan sebelumnya, maka perilaku itu bersifat non logis.

Unsur-unsur mekanis di dalam individu yang menegakkan sistem sosial dan melandasi keseimbangannya.

Menurut Pareto, perilaku non logis merupakan sumsum kehidupan bersama dan obyek utama sosiologi. Perilaku itu tidak berasal dari akal-budi yang berpikir rasional, melainkan dari sentimen-sentimen yang umumnya tidak disadari secara eksplisit oleh para pelaku. Unsur-unsur tersebut adalah :

  1. Residu, yang dimaksudkan dengan residu (endapan) adalah struktur-struktur dasar manusia yang selalu sama, mantap, dan tidak berubah sepanjang peredaran jaman. Struktur dasar ini melandasi dan menentukan perilaku.

Semua perbuatan manusia dapat digolongkan menurut beberapa jenis, jenis-jenis ini membuktikan adanya unsur-unsur struktural yang berbeda di dalam diri manusia. Disatu pihak, unsur-unsur ini harus dibedakan dari naluri-naluri biologis, dilain pihak mereka menghasilkan sikap kelakuan yang otomatis.

Jadi, unsur-unsur tersebut mirip dengan naluri-naluri, dan unsur-unsur tersebutlah yang disebut dengan “residu-residu” yang membentuk kepribadian seseorang.

  1. Derivasi, adalah rasionalisasi atau pembenaran perbuatan yang non-logis. Derivasi secara harfiah juga berarti “penurunan”, maksudnya mereka dibuat post factum. Manusia bertindak lebih dahulu, baru kemudian ia mencari motivasi. Jadi pembenaran dengan teori berasal datau diturunkan dari perbuatan. Derivasi selalu menyusul. Derivasi-derivasi yang lazimnya dipakai oleh orang di dalam pergaulan mereka, dibahas oleh Pareto dalam bagian Treatise yang berjudul Mind and Society. Menurut Pareto, derivasi-derivasi dengan mudah diganti-ganti, tetapi residu-residu yang menentukan pola perilaku manusia pada umumnya tetap sama.
  2. Kesukaan, unsur ketiga yang membentuk mekanisme masyarakat adalah perasaan suka, senang atau merasa diri tertarik pada hal-hal tertentu.
  3. Kepentingan, semua individu dan golongan digerakkan dan dirangsang oleh apa yang menjadi kepentingan mereka dalam bentuk barang, kedudukan, atau kekuasaan. Istilah kepentingan dipakai juga untuk naluri yang menggairahkan orang untuk mencari kenikmatan atau keuntungan semaksimal mungkin atas biaya pengorbanan seminimal mungkin.
  4. Heterogenitas sosial, unsur kelima ini berisi tentang keberagaman sosial seperti faktor alam, ekonomi, geografis, dan faktor lainnya. Tetapi faktor-faktor tersebut  belum dapat menerangkan gejala revolusi kemudian sebagai pelengkap heterogenitas sosial, Pareto melontarkan pengembangan konsep pikirannya adalah sebagai berikut : individu-individu tidak semua sama, hal tersebut terlihat dari segi intelektual, moral, dan fisik. Masyarakat terdiri dari beragam kelompok dan golongan, yang atas cara sendiri-sendirinya berinteraksi satu dengan yang lain.hal inilah yang menimbulkan kelompok elit dan kelompok bawah dalam sebuah kelompok seperti kelompok politik.

Kritik dan Relevansi teori Parreto

  1. Tiap-tiap ilmu pengetahuan positif harus mengurangi ambisinya dan hanya mencari kebenaran yang dapat dibuktikan dan diuju dengan eksperimen.

Kritiknnya, positivis berarti melihat gejala-gejala yang ada di masyarakat, dan menyadari bahwa masyarakat itu bersifat dinamis (mengalami perubahan). Sosiologi pada dasarnya memiliki metode khas dalam melakukan penelitian sosial dalam masyarakat : Pengamatan, penlitian sejarah, eksperimentasi perbandingan, dan metode penelitian. Kemudian sosiologi itu lebih sering berspekulasi / berteori untuk menemukan hukum invarian dari dunia sosial, dari Comte sendiri hukum ini dikemas ke dalam “Hukum Tiga Jenjang” yang pasti dilalui oleh perkembangan manusia, intelektual, dan masyarakat.

  1. Pareto menganggap ilmu pengetahuan positif tidak bertugas untuk mereformasi masyarakat, sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang empiris tidak bertujuan untuk menyebarluaskan gagasan mengenai masyarakat ideal yang seharusnya dibentuk, melainkan menyajikan fakta mengenai masyarakat yang nyata dan dapat ditinjau diuraikan oleh tiap-tiap orang. Kritiknya sosiologi positif yang diharapkan Comte ialah bahwa sosiologi ini memberikan arah pada masyarakat masa refolusi yang pada saaat itu telah kehilangan sifat kemanusiaanya. Sosiologi diharapkan mampu mentransformasi masyarakat, transformasi masyarakat yang dimaksud bukanlah yang bersifat refolusioner tetapi yang bersifat evolusioner.

DAFTAR PUSTAKA

George Ritzer & Douglas J. Goodman. 2008. Teori sosiologi. Yogyakarta :Kreasi Wacana.

M.Zeitlin, Irving. Memahami Kembali Sosiologi. Yogyakarta :Gajah Mada University Press.

Dwi Susilo, Rachmad K. 2008. 20 Tokoh Sosiologi Modern. Yogyakarta :Ar-Ruzz Media.

M.Poloma, Margaret. Sosiologi Kontemporer. Jakarta :PT Raja Grafindo Persada.

Prof. Dr. Wardi Bachtiar, MS. 2006. Sosiologi Klasik, Dari Comte hingga Parsons. Bandung :PT Remaja Rosdakarya.

Bisri, Mustofa S.Sos & Vindi, Elisa S.S. 2008.  Kamus Lengkap Sosiologi. Yogyakarta :Panji Pustaka.

Tim Prima Pena. 2006. Kamus Ilmiah Populer Edisi Lengkap. Surabaya :Gitamedia Press.

Johnson, Doyle Paul. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Jilid 1. Jakarta :Penerbit Gramedia.

K.J, Veeger. 1993. Realitas Sosial. Jakarta :Gramedia Pustaka Utama.

Bachtiar, Wardi. 2006. Sosiologi Klasik. Bandung :PT Remaja Rosdakarya Offset.

Tugas Teori Sosiologi Klasik

Author: daninur  |  Category: Teori Sosiologi Klasik

Nama : DANI NUR HADIYANTO

NIM : D0311016

Jurusan : Sosiologi

  1. A. Auguste Comte

Dalam ilmu pengetahuan dikenal istilah paternity (pengakuan bahwa seorang tokoh adalah pendiri suatu bidang ilmu dengan memberikan nama “Bapak” bagi bidang ilmu yang bersangkutan). Dalam sosiologi, tokoh yang sering dianggap sebagai Bapak yaitu Auguste Comte (seorang ahli filsafat dari Perancis). Akan tetapi Reiss Jr berpendapat bahwa Comte lebih tepat dianggap sebagai godfather (wali) daripada progenitor (leluhur) sosiologi, karena sumbangan Comte terbatas pada pemberian nama dan suatu filsafat yang membantu perkembangan sosiologi. Menurut Reiss, tokoh yang lebih tepat dianggap sebagai “penyumbang utama” bagi kemunculan sosiologi adalah Emile Durkheim.

Nama “sosiologi” memang merupakan hasil ciptaan Comte, yang tergabung antara kata Romawi (socious) dan kata Yunani (logos). Coser mengisahkan bahwa Comte semula bermaksud memberikan nama social physics bagi ilmu yang akan diciptakannya itu, namun kemudian mengurungkan niatnya karena istilah tersebut telah digunakan oleh seorang tokoh lain, yaitu Saint Simon.

Salah satu sumbangan penting lain bagi sosiologi, sebagaimana telah dikemukakan Reiss, ialah suatu filsafat yang mendorong perkembangan sosiologi. Pemikiran ini diutarakan Comte dalam bukunya yang berjudul “Course de Philosophie Positive”. Dalam buku ini Comte mengemukakan pandangannya mengenai “hukum kemajuan manusia” atau “hukum tiga jenjang”. Menurut pandangan ini, sejarah manusia akan melewati tiga jenjang yang meliputi jenjang teologi, jenjang metafisika, dan jenjang positif. Pada jenjang yang pertama manusia akan mencoba menjelaskan gejala di sekitarnya dengan mengacu pada hal yang bersifat adikodrati. Dan pada jenjang yang kedua manusia mengacu pada kekuatan metafisik atau abstrak. Sedangkan pada jenjang terakhir, yaitu jenjang positif, penjelasan gejala alam maupun sosial dilakukan dengan mengacu pada deskripsi ilmiah yang didasarkan pada hukum ilmiah.

Karena memperkenalkan metode positif ini, maka Comte dianggap sebagai perintis positivisme. Ciri metode positif ialah bahwa objek yang dikaji harus berupa fakta, dan bahwa kajian harus bermanfaat serta mengarah ke kepastiandan kecermatan. Sarana yang menurut Comte dapat digunakan untuk melakukan kajian ialah pengamatan, perbandingan, eksperimen, atau metode historis.

Menurut pandangan Comte, sosiologi harus merupakan ilmu yang sama ilmiahnya dengan ilmu pengetahuan.alam yang mendahuluinya. Menurut hematnya kegiatan kajian sosiologi yang tidak menggunakan metode pengamatan, perbandingan, eksperimen ataupun historis bukanlah kajian ilmiah melainkan hanya renungan atau khayalan belaka.

Suatu pandangan menarik dari Comte ialah bahwa sosiologi menurutnya merupakan “Ratu” dari ilmu – ilmu sosial. Dalam bayangannya mengenai hirarki ilmu, sosiologi bahkan menempati kedudukan teratas, di atas astronomi, fisika, ilmu kimia, biologi.

Sumbangan pikiran penting lain yang diberikan Comte ialah pembagian sosiologi ke dalam dua bagian besar, yaitu statika sosial, yaitu kajian terhadap tatanan sosial, sedangkan dinamika sosial yaitu kajian terhadap kemajuan dan perubahan sosial. Statika mewakili stabiitas, sedangkan dinamika mewakili perubahan. Dengan memakai analogi dari biologi, Comte menyatakan bahwa hubungan antara statika sosial dengan dinamika sosial dapat disamakan dengan hubungan antara anatomi dan fisiologi.

Hingga kini pun klasifikasi Comte ini masih tetap relevan. Dalam literatur sosiologi masa kini kita senantiasa menjumpai ahli sosiologi yang mempelajari social statics, melakukan kajian terhadap tatanan sosial seperti misalnya kajian terhadap struktur sosial suatu masyarakat, institusi di dalamnya, hubungan antara suatu institusi dan institusi lain, fungsi masing – masing institusi dan sebagainya. Namun ada pula ahli sosiologi yang memusatkan perhatiannya pada social dynamics, mengkaji perubahan sosial seperti misalnya perubahan sosial yang melanda negara baru setelah berakhirnya Perang Dunia II, arah perubahannya, dampaknya dan sebagainya.

  1. B. Karl Marx

Karl Marx lahir di Trier, Jerman pada tahun 1818 dari kalangan keluarga rohaniwan Yahudi. Pada tahun 1841 ia mengakhiri studinya di Universitas Berlin dengan menyelesaikan disertasi berjudul “On the Differences between the Natural Philosophy of Democritus and Epicurus. Karena pergaulannya dengan orang yang dianggap radikal ia terpaksa mengurungkan niat untuk menjadi penajar universitas dan menerjunkan diri ke kancah poliik. Setelah menikah ia mengembara ke negara lain di Eropa, mula – mula secara sukarela, dan kemudian secara terpaksa karena diusir oleh pemerintah setempat. Marx lebih dikenal sebagai seorang tokoh sejarah ekonomi, ahli filsafat, dan aktivis yang mengembangkan teori mengenai sosialisme yang di kemudian hari dikenal dengan nama Marxisme daripada sebagai seorang perintis sosiologi. Meskipun demikian sebenarnya Marx merupakan pula seorang tokoh teori sosiologi. Levebvre mengemukakan, misalnya, bahwa meskipun Marx bukan ahli sosiologi namun tulisannya mengandung sosiologi. Menurut Kornblum, Marx tidak menganggap dirinya sebagai ahli sosiologi melainkan sebagai ahli filsafat, ekonomi, ekonomi politik, dan sejarah.

Sumbangan utama Marx bagi sosiologi terletak pada teorinya mengenai kelas yang disajikannya dalam berbagai tulisan, termasuk di dalamnya The Communist Manifesto yang ditulisnya bersama Friedrich Engels. Marx berpandangan bahwa sejarah masyarakat manusia merupakan sejarah perjuangan kelas. Menurut Marx perkembangan pembagian kerja dalam kapitalisme menumbuhkan dua kelas yang berbeda, kelas yang terdiri atas orang yang menguasai alat produksi, yang dinamakannya kaum burjois, yang mengeksploitasi kelas yang terdiri atas orang yang tidak memiliki alat produksi, yaitu kaum proletar. Menurut Marx pada suatu saat kaum proletar akan menyadari kepentingan bersama mereka sehingga bersatu dan memberontak, dan dalam konflik yang kemudian berlangsung (yang oleh Marx dinamakan perjuangan kelas, kaum burjois akan dikalahkan. Marx meramalkan bahwa kaum proletar kemudian akan mendirikan suatu masyarakat tanpa kelas.

Meskipun ramalan Marx tidak pernah terwujud namun pemikiran Marx mengenai stratifikasi sosial dan konflik tetap berpengaruh terhadap pemikiran sejumlah besar ahli sosiologi. Sebagaimana halnya dengan para tokoh sosiologi lainnya, maka, sebagaimana telah kita lihat, pemikiran Marx pun diarahkan pada perubahan sosial besar yang melanda Eropa Barat sebagai dampak perkembangan pembagian kerja, khususnya yang terkait dengan kapitalisme.

  1. C. Max Weber

Max Weber lahir di Jerman pada tahun 1864. Ia belajar ilmu hukum di Universitas Berlin dan Universitas Heidelberg dan pada tahun 1889 menulis disertasi berjudul “A Contribution to the History of Medieval Business Organizations. Setelah menyelesaikan studinya ia mengawali kariernya sebagai dosen ilmu hukum (mula – mula di Universitas Berlin, kemudian di Universitas Freiburg, dan setelah itu di Universitas Heidelberg). Menjelang akhir masa hidupnya Weber mengajar di Universitas Wina dan Universitas Munich. Selain mengajar ia pun berperan sebagai konsultan dan peneliti, dan semasa Perang Dunia I mengabdi di angkatan bersenjata Jerman.

Weber merupakan seorang ilmuwan yang sangat produktif dan menulis sejumlah buku dan makalah. Salah satu bukunya yang terkenal ialah “The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism”. Dalam buku ini ia mengemukakan tesisnya yang terkenal mengenai keterkaitan antara Etika Protestan dengan munculnya Kapitalisme di Eropa Barat. Menurut Weber muncul dan berkembangnya kapitalisme di Eropa Barat berlangsung secara bersamaan dengan perkembangan Sakte Kalvinisme dalam agama Protestan. Argumen Weber adalah sebagai berikut “ajaran Kalvinisme mengharuskan umatnya untuk menjadikan dunia tempat yang makmur (sesuatu yang hanya dapat dicapai dengan kerja keras. Karena umat Kalvinis bekerja keras, antara lain dengan harapan bahwa kemakmuran merupakan tanda baik yang mereka harapkan dapat menuntun mereka ke arah Surga, maka mereka pun menjadi makmur.

Namun keuntungan yang mereka peroleh melalui kerja keras ini tidak dapat digunakan untuk berfoya – foya atau bentuk konsumsi berlebihan lain, karena ajaran Kalvinisme mewajibkan hidup sederhana dan melarang segala bentuk kemewahan dan foya – foya. Sebagai akibat yang tidak direncanakan dari perangkat ajaran Kalvinisme ini, maka para penganut agama ini menjadi semakin makmur karena keuntungan yang mereka peroleh dari hasil usaha tidak dikonsumsikan melainkan ditanamkan kembali dalam usaha mereka. Melalui cara inilah, menurut Weber, kapitalisme di Eropa Barat berkembang.

Sumbangan Weber yang tidak kalah pentingnya ialah kajiannya mengenai konsep dasar sosiologi. Dalam uraian ini Weber menyebutkan pula bahwa sosiologi ialah ilmu yang berupaya memahami tindakan sosial.

Salah satu sumbangan penting Weber bagi sosiologi di samping sumbangan pemikirannya berupa usaha menjelaskan proses perubahan jangka panjang yang melanda Eropa Barat ialah usahanya untuk mendefinisikan dan menjabarkan pokok bahasan sosiologi. Sebagaimana nanti akan kita lihat dalam bahasan – bahasan berikutnya, pemikiran Weber kemudian diikuti oleh sejumlah besar ahli sosiologi masa kini.

Daftar Pustaka

Sunarto, Kamanto. 2000. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi